Kasih "Ibu" tak terhingga
Kasih "Ibu" Tak Terhingga
“ Mamah …” panggilan seorang Wanita yang
telah mengandungku dan melahirkanku. Sutihat Yahya namanya, dia kelahiran 1949
dan dibesarkan oleh seorang ibu single parent, ayahnya meninggalkanya sejak dia
masih kecil karena menikah dengan Wanita lain.
Menurut ceritanya, dari sejak kecil mamahku
tinggal di rumah kakek, yang aku panggil
uyut, dia seorang Kyai besar pada jamannya, KH. Abdul Hadi namanya, pimpinan pondok pesantren Al Hidayah Kubang Welut,
Cilegon.
Alhamdulillah mamahku bisa mengenyam bangku
sekolah hingga lulus Aliyah Citangkil. Dengan kerja kerasnya sepulang sekolah
dia membantu kakeknya mengajar madrasah yang ia dirikan.
Mamaku pergi merantau ke Serang untuk
melanjutkan studinya, ikut tinggal dengan adik ibunya di desa Kaujon Serang.
Sambil mengajar, dia melanjutkan studinya di IAIN. Hingga bertemu dengan
seorang laki laki yang menjadi pasangan hidupnya, dialah ayahku yang aku
panggil mamak/ ema.
Masa Kecilku
Ifat Syariftiyani namaku, pemberian bapakku saat menjelang masuk sekolah,
konon kabarnya uyutku (KH Abdul Hadi) memberi nama Syarifaturrahmah. Aku
adalah anak pertama dari 6 bersaudara, 4 perempuan 2 laki laki, dalam waktu 10
tahun mamahku melahirkan 6 anak. Bisa dibayangkan jarak kami punya adik 1-2
tahun.
Perjuangan kedua orang tuaku untuk menddidik dan membesarkan anak
anaknya saat itu sungguh luar biasa, Ema (panggilan bapakku) bekerja sebagai
seorang guru, mengajar pagi hingga sore hari. Mamahku ikut membantu
perekonomian keluarga dengan mengajar di madrasah dari pukul 14.00 wib hingga
pukul 17.00 wib
Dengan anak 6 yang masih kecil-kecil dan posisi mamahku bekerja, sungguh
repot luar biasa, tanpa kenal lelah, semua pekerjaan dikerjakan sendiri oleh
mamahku, dari menyiapkan sarapan, membereskan rumah, memandikan adik adik hingga
mengajar kami mengaji dan mensuport tugas tugas sekolah. Hanya mencuci pakaian
dan nyetrika saja yang dikerjakan oleh asisten keluarga. Sementara Aku dan adik
adikku sekolah pagi dan sore.
Saat kami di sekolah, mamahku tidak tinggal diam, dia membuat es ampere.
Dimasukkannnya bahan es kedalam plastic satu persatu, lalu diikat dengan karet.
Setelah selesai semua, es ampera disusun ke dalam lemari es. Tidak lupa mamahku membolak balikkan es amperenya agar
kerasnya merata dan tak jarang juga aku dapatkan mamahku bangun
ditengah malam untuk membolak balikannya. Keesokan harinya es tersebut
dititipkan diwarung yang terdekat, dan kadang ada yang ngambil kerumah untuk
dijualkan.
Mamahku sangat pandai mengatur keuangan, tidak pernah membiasakan untuk
berhutang. Tak jarang pedagang warung atau keliling menawarkan barang untuk di
hutang, namun mamahku tidak pernah mengambil kesempatan itu. Sikap itulah yang
saya tiru dari mamahku dalam mengatur keuanganku,
Saat kami pulang sekolah mamaku sudah menyiapakan makan siang, kami makan
dengan lauk dan sayur yang telah disiapkan mamaku. Sepotong tempe dan ikan
mujair serta sayur asam menjadi favorit keluargaku, terasa nikmat tuk santap,
karena memang lapar dan lelah sepulang sekolah.
Istirahat sejenak, kami bersiap siap tuk berangkat sekolah madrasah, begitupun
dengan mamahku. Adikku yang belum sekolah, dibawanya mengajar. Kami sekolah
madrasah ditempat mamaku mengajar. Disela istirahat kami kadang mengasuh adikku
bermain di halaman kadang pula menunggu jualan es ampere.
Saat aku SMP dan adikku sudah
duduk dibangku SD, kami membagi tugas pekerjaan
rumah dengan adik adikku, ada yang menyapu lantai, menemani mamahku memasak,
mencuci piring dan mengasuh adik kecil kami. Semua kami lakukan untuk
meringankan beban pekerjaan mamahku di rumah.
Masa Remajaku
Lulus SMP aku masuk pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta Selatan. Ternyata
tidak murah untuk masuk pesantren modern. Ku gunakan sedikit tabunganku untuk melengkapi
kebutuhanku di asrama.
Setiap satu bulan sekali mamahku menjengukku. Kadang berdua dengan Ema
(bapakku), namun lebih sering mamahku sendiri menjengukku.
Di hari Jum’at yang masih gelap, mamahku melangkahkan kakinya ke
terminal, mengejar bis yang menuju Jakarta.
Dengan bawaan yang sangat banyak dan berat tentunya, untuk kebutuhan aku
selama satu bulan kedepan. Namun kala
itu aku tidak mengerti dan tidak pernah memikirkan beratnya dan repotnya membawa
semua itu dengan harus berpindah dari mobil satu ke mobil yang lainnya. Namun
mamah tidak pernah mengeluh berat dan repot. Yang aku rasakan hanya kebahagiaan
saat ditengok mamah.
Tak pernah terfikirkan olehku, siapa yang
menjaga adik adikku dirumah. Kadang aku menahannya untuk tidak cepat pulang. Apalagi
kalau aku sedang kurang enak badan, aku bermanja manja, berkeluh kesah tentang apa
yang kurasakan.
Trimakasih mamah …. Pengorbananmu sungguh
luar biasa, demi mensuport aku sekolah dipesantren, sampai harus pulang malam
dikesendirian menanti dan mengejar mobil bus untuk pulang ke Serang. Sampai akhirnya aku lulus Aliyah di Darunnajah.
Tak terbalaskan jasamu mamah ….
Masa dewasaku
Lulus dari pesantren aku diminta untuk
mengabdi di Darunnajah, namun kedua orang tuaku tidak mengijinkannya, aku
diharuskan untuk terus melanjutkan kuliah.
Aku pamit ke kedua orang tuaku untuk berangkat ke kampus pilihanku, aku berangkat
dari Serang ke Ciputat sendiri. Rencananya tidak akan lama, hanya Enam hari,
aku pulang dulu. Namun ternyata … dengan
kegiatan yang padat diawal masa orientasi, aku tidak bisa pulang.
Di hari minggu diwaktu duhur, saat saat
para anak kost mencari makan di warung nasi, tiba tiba aku melihat kedua orang
tuaku dengan membawa tas yang amat besar berjalan menyelusuri gang, ku gosok
gosok mata ini serasa tak percaya. Ternyata benar, Allah menggerakkan hati
kedua orang tuaku dan aku untuk bertemu di tengah gang pasangrahan.
Semasa
kuliah, tidak lagi mamahku yang bulak balik menengokku, tapi aku yang
bulak balik pulang untuk minta perbekalan dan uang saku. He he …
Alhamdulillah … aku dapat menyelesaikan
study S1 ku 9 semester. Dan akupun menemukan jodohnya dikampus tersebut, Satu hari sebelum aku menerima ijazah
(wisuda), aku ijab sah terlebih dahulu.
Pernikahannku hanya berjalan 18 tahun,
penuh Sakinah, Mawaddah dan Rahmah, kami dikaruniai 3 anak yang soleh dan
sholehah serta cerdas. Suamiku meninggalkanku karena Allah sayang padanya.
Masa Aku menjadi single Parent
Tidak mudah untuk menjadi single Parent,
kehilangan orang yang sangat dicintai amatlah berat, deraian airmata kadang tak
terasa mengalir deras dipipi. Anakpun tak dapat membendungnya.
Mamahku datang untuk menguatkanku, duduk
disampingku sambil terus membelai kepalaku. Nasehat nasehatnya keluar dari
mulutnya hingga aku lelah menangis dan tertidur.
Hari demi hari, minggu berganti bulan dan
tahun, mamahku selalu siap menjadi tumpuan
kesedihanku, hingga kini aku menjadi kuat membesarkan dan mendidik anak
anakku.
Allah menguji hambanya sesuai dengan
kemampuannya. Dua tahun setelah kepergian suamiku, Allah mengujiku dengan
kehilangan harta yang ku siapkan untuk biaya sekolah. Kesedihan kali ini, bukan
Airmata yang mengalir deras dipipiku, tapi rasa nyesek didada yang tak habis
pikir kenapa bisa hilang,
Lagi lagi mamahkulah yang menguatkan aku, malam
itu aku ditemani tidur bersama mamahku. Mamahku
terus mengingatkan dan menasehatiku, akhirnya
aku berpositive thinking, “mungkin orang yang megambil uangnya lebih
membutuhkan dari pada aku, semoga uangnya bermanfaat bagi mereka”.
Kali ini aku lebih ikhlas untuk kehilangan
harta, semua biaya sekolah alhamdulillah tercukupi dengan sisa sisa tabunganku .
Sampai akhirnya anak anakku dapat menyelesaikan kuliahnya, itu semua tidak
lepas dari support dan bantuan finansial serta do’a kedua orang
tuaku,
Trimakasih mama …. Kasihmu tak terhingga dan tak kan terbalaskan.
Ifat
Syariftiyani, lahir di Serang, 23 Maret 1971, TK, SD dan SMP di Serang Banten. Aliyah merantau ke Jakarta Masuk Pesantren
Darunnajah Ulujami Jakarta lulus tahun 1990. Melanjutkan Kuliah S1 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas
Tarbiah PAI lulus tahun 1994 akhir. Melanjutkan kuliah S2 tahun 2011 di IAIN Sunan
Maulana Hasanudin Banten, Fakultas Tarbiyah PAI dan lulus tahun 2013.
Menikah
dengan Moechidin awal tahun 1995 dikaruniai tiga orang anak, M. Rofiul Ilmi, M.
Rouful Hadi dan Robihat. Alhamdulillah yang pertama Sarjana Sain, yg kedua
Sarjana Agama dan yang ketiga masih tahap akhir.
Komentar
Posting Komentar